Penyebaran informasi secara luas menggunakan koneksi internet sudah sangat maju. Peserta didik pun bisa belajar serta mencari referensi menggunakan internet dengan mudah. Namun hal ini bisa memicu adanya permasalahan plagiarisme sehingga para guru harus menggunakan AI detektor plagiarisme.
Kebebasan dalam mencari referensi menjadi suatu keuntungan dalam penyebaran informasi serta teknologi di era internet ini. Namun hal ini bisa juga menimbulkan berbagai permasalahan salah satunya yaitu pada bidang plagiarisme.
Suatu informasi atau karya dapat mengalami plagiarisme yang terlaksana secara sengaja atau tidak sengaja. Seseorang dapat mengutip atau mengambil suatu informasi dari suatu sumber dan menjadikan informasi tersebut menjadi milik mereka. Permasalahan ini tentu saja menjadi suatu momok untuk bidang pendidikan.
Praktek ini bisa memicu adanya ketidakjujuran sehingga menimbulkan hasil pembelajaran yang tidak tepat dalam pelaksanaan kegiatan belajar. Para peserta didik akan menjadi seseorang yang tidak bertanggung jawab karena telah mengambil hasil karya tulis orang lain.
Selain itu praktek ini juga bisa menyebabkan perkembangan kemampuan berpikir peserta didik jadi terhambat karena bergantung sepenuhnya dengan informasi di internet tanpa pemahaman dari diri sendiri. Mereka tidak akan dapat memahami suatu materi dengan baik karena menggunakan hasil karya orang lain.
Ini akan dapat berdampak pada perkembangan kompetensi mereka dalam jangka yang panjang. Maka dari itu para guru bisa menggunakan detektor plagiarisme AI yang dapat mengetahui apakah suatu karya tulis tersebut unik atau dibuat oleh kecerdasan buatan.
Berikut ini adalah informasi mengenai detektor plagiarisme artificial intelligence yang bisa membantu para guru dalam melaksanakan pendidikan di era digital ini. Semoga informasi ini dapat membantu dalam pelaksanaan pembelajaran yang tersusun secara jujur dan bertanggung jawab.
Masalah plagiarisme era AI
Maraknya penggunaan kecerdasan buatan di dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat memang memberikan kemudahan yang lebih besar daripada sebelumnya. Banyak masyarakat merasakan terbantu karena adanya kecerdasan buatan yang dapat mempermudah serta mengotomatisasi kegiatan-kegiatan berulang.
Mereka merasakan efektivitas dari penggunaan kecerdasan buatan ini sehingga mulai menggunakannya di berbagai aspek. Salah satu aspek tersebut yaitu bidang pendidikan.
Di bidang pendidikan terdapat banyak sekali penggunaan kecerdasan buatan yang membantu proses pembelajaran mulai dari learning management system hingga artificial intelligence generatif. Teknologi ini membantu dalam mengelola pembelajaran dan juga memberikan materi belajar yang tepat serta cepat untuk peserta didik.
Namun dalam penggunaan teknologi, penyalahgunaan masih akan dapat terjadi di berbagai tempat. Penyalahgunaan penggunaan kecerdasan buatan saat ini sudah banyak terlaksana pada bidang pendidikan. Contohnya yaitu dalam pembuatan karya tulis yang menggunakan kecerdasan buatan untuk menciptakan serta mencari sumber informasi karya.
Pengguna akan menyalin mentah-mentah hasil dari kecerdasan buatan dalam menulis karya tulis. Kecerdasan buatan memang dapat membantu menulis karya dengan rapi dan juga cepat dalam hitungan menit saja.
Namun hal ini bisa menyebabkan banyak permasalahan karena membuat penggunanya menjadi ketergantungan dalam menggunakan kecerdasan buatan sehingga tidak menggunakan penalarannya sendiri. Selain itu karya tulis tersebut merupakan suatu hasil yang tidak jujur karena menggunakan kecerdasan buatan dan bukan pemikiran sendiri.
Apalagi hasil pencarian kecerdasan buatan tersebut bisa saja tidak benar atau tidak sesuai dengan informasi yang ada. Hal ini bisa menjadi pemicu pertanyaan apakah karya tulis tersebut memang sudah valid atau belum.
Penggunaan kecerdasan buatan di dalam pembelajaran sebaiknya memang dibatasi apalagi di ruang profesional. Plagiarisme artificial intelligence bukanlah hal yang ringan di dalam konteks profesional.
AI detektor plagiarisme bisa membantu dalam mengecek apakah konten yang telah dibuat merupakan hasil plagiarisme kecerdasan buatan atau bukan. Praktek pengecekan ini harus terlaksana dengan tepat agar dapat mencegah kecurangan dalam pembelajaran.
Di dalam konteks pembelajaran sekolah, para guru harus dapat menerapkan kejujuran sehingga dapat melatih peserta didik dalam bertanggung jawab akan karya mereka sendiri.
Cara kerja AI detektor plagiarisme
Bagaimana cara kerja detektor plagiarisme AI tersebut? Berikut ini adalah beberapa informasi yang dapat menjadi referensi. Pemahaman ini akan membantu para guru dalam memahami cara kerja pengecekan plagiarisme suatu teks.
Pendeteksi konten buatan artificial intelligence merupakan alat yang dapat menganalisis teks sehingga bisa menentukan apakah teks tersebut merupakan buatan manusia atau buatan artificial intelligence. Alat deteksi ini akan memeriksa segala pola di dalam teks hingga pilihan kata sehingga dapat mengetahui apakah teks tersebut buatan manusia atau bukan.
Alat ini akan mencari tanda-tanda seperti tata bahasa yang terlalu sempurna atau frasa yang berulang-ulang. Frasa kalimat dengan struktur yang mencurigakan juga bisa menjadi penentu. Teknologi ini muncul sebagai suatu tanggapan akan penggunaan penulisan artificial intelijen.
Detektor ini akan memanfaatkan dua jenis teknologi sehingga bisa mendeteksi konten buatan artificial intelligence. Dua jenis teknologi ini yaitu pembelajaran mesin dan juga prosesor bahasa alami.
Kedua teknologi ini akan memungkinkan detektor dalam mengidentifikasi pola bahasa, tingkat kerumitan dan juga sintaksis. Ketika detektor telah mengenali cukup banyak pola di dalam suatu teks maka kemungkinan besar teks tersebut merupakan hasil artificial intelligence.
Detektor ini telah dilatih dengan ribuan save data sehingga bisa membantu membandingkan temuan mereka. Teknologi ini akan mampu membantu mengidentifikasi dan membandingkan contoh teks dengan potongan konten yang dihasilkan artificial intelligence.
Detektor ini tidak hanya menemukan pola dalam tulisan dan mengindikasikan pembuatnya, melainkan juga membandingkannya dengan ribuan contoh teks hasil kecerdasan buatan lain.
Umumnya detektor ini akan mencari.
Prediksi
Ini untuk mengukur seberapa mudah teks tersebut diprediksi. Tuliskan hasil manusia akan cenderung lebih sulit untuk diprediksi Karena manusia menggunakan pilihan kata yang aneh dan juga memulai kalimat dengan cara yang canggung.
Manusia umumnya menulis dengan cara yang tidak dapat diketahui dan bahkan mengejutkan. Ini berbeda dengan artificial intelligence yang cenderung memilih kata atau frasa yang paling mungkin muncul secara statistik data.
Analisis penggunaan kalimat
Analisis ini untuk meneliti variasi panjang kalimat. Ini karena manusia menulis dengan ritme alami. Manusia bergantian antara menggunakan kalimat pendek dan juga padat dengan kalimat panjang yang lebih kompleks.
Kecerdasan buatan umumnya menghasilkan teks yang seringkali lebih panjang dan memiliki struktur kalimat konsisten. Detektor akan mengecek faktor ini untuk mengetahui apakah teks tersebut adalah buatan manusia.
Pola semantik
Pola semantik yang akan mengungkapkan Bagaimana ide mengalir dari satu masalah ke masalah lain. Manusia akan membuat penulisan dengan lompatan yang terkadang tidak mengalir secara sempurna dan tidak dapat diprediksi. Umumnya akan membuat lompatan ide yang berputar kembali ke posisi sebelumnya. Hal ini berbeda dengan kecerdasan buatan yang mengikuti pola pemikiran lebih dapat diprediksi dan linear.
Distribusi kosakata
Temuan ini melihat distribusi kosakata seperti frekuensi pilihan kata yang ada di teks. Umumnya manusia akan menggunakan pilihan kata dan frasa favorit bahkan menghindari beberapa kata-kata tertentu.
Ini berbeda dengan model artificial intelligence yang memiliki preferensi kota-kota berbeda berdasarkan data pelatihan mereka. Detektor akan mengecek pemilihan kata tersebut untuk mengetahui apakah teks merupakan hasil manusia atau bukan.
Baca Juga: Kode Etik Guru, Ketahui Pengertian dan Fungsinya!
Alat rekomendasi AI detektor plagiarisme untuk sekolah
Untuk penggunaan dalam konteks pembelajaran terdapat beberapa alat rekomendasi detektor plagiarisme yang dapat guru gunakan. Setiap detektor memiliki beberapa keunggulan yang berbeda satu sama lain.
Para guru dapat memilih detektor plagiarisme yang sesuai dengan kebutuhan sehingga mampu mengecek tingkat keunikan suatu dokumen.
- ZeroGPT
- Kawalu
- GPTZero
- Winston AI
- Content at Scale AI Detector
- Scribbr AI Detector
- Hive Moderation AI Detector
Membaca laporan hasil deteksi plagiarisme AI
Umumnya penggunaan website deteksi plagiarisme artificial intelligence akan sangat mudah untuk digunakan. Para guru tinggal memasukkan teks atau dokumen yang ingin dicek sehingga bisa melihat apakah teks tersebut sudah bebas plagiarisme AI atau belum.
Di dalam website tersebut akan terdapat beberapa keterangan yaitu tingkat keunikan teks dan juga tingkat plagiarisme dalam bentuk persen. Tingkat keunikan teks akan menunjukkan seberapa besar teks sudah unik dari beberapa teks lain di internet.
Tingkat plagiarisme AI akan menunjukkan berapa banyak kesamaan suatu kalimat atau teks pada sumber-sumber lain. Tingkat plagiarisme ini akan menunjukkan apakah teks tersebut dibuat oleh artificial intelligence atau bukan.
Di dalam website tersebut nantinya akan menunjukkan beberapa sumber-sumber teks yang sama dengan dokumen yang guru masukan.
Dalam penggunaan website plagiarisme yang lebih detail seperti turnitin, terdapat beberapa keterangan yang dapat guru lihat dalam pengecekan plagiarisme. Penggunaan website ini umumnya digunakan oleh aktivitas akademik belum menyerahkan hasil karya tulis atau skripsi.
Edukasi integritas akademik
AI detektor plagiarisme memang menjadi solusi dalam meminimalisir kecurangan yang terjadi dalam pembuatan tugas di sekolah. Selain adanya penggunaan detektor ini, para guru dan pihak sekolah dapat melaksanakan kegiatan edukasi mengenai integritas akademik sehingga mampu melatih kejujuran serta mengurangi kecurangan penggunaan kecerdasan buatan di bidang akademik.
Integritas akademik merupakan suatu prinsip kejujuran dalam segala kegiatan akademik. Kegiatan akademik ini meliputi penelitian, penulisan karya ilmiah, pembuatan tugas dan juga ujian.
Integritas akademik melarang adanya praktek plagiarisme karena bertolak belakang dengan prinsipnya. Individu harus dapat mencantumkan sumber referensi ketika membuat suatu karya tulis sehingga data dan fakta dapat bertanggung jawabkan.
Di dalam integritas akademik ini proses dan hasil kegiatan akademik harus berjalan secara transparan dan juga akuntabel. Di dalam integritas akademik ini terdapat beberapa nilai-nilai yang perlu dijunjung tinggi yaitu:
- Kejujuran dalam menyampaikan data serta informasi
- Keadilan dalam memberikan penilaian
- Kepercayaan dalam menjaga dan menghormati karya orang lain
- Kehormatan dalam menjaga martabat diri serta martabat institusi
- Adanya tanggung jawab dalam menjalankan tugas serta kewajiban akademik
- Keteguhan hati ketika menghadapi tantangan serta menjaga integritas dalam kegiatan akademik
Integritas akademik untuk para akademisi yang menciptakan karya tulis memiliki tujuan untuk:
- Meningkatkan kualitas pendidikan: integritas akademik akan memastikan bahwa karya ilmiah yang tercipta akan mencerminkan upaya serta kemampuan secara nyata dari akademisi. Hal ini demi dapat meningkatkan kualitas pendidikan secara terus-menerus.
- Mencegah adanya plagiarisme dan juga kecurangan akademik: Integritas akademik menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan juga tanggung jawab sehingga akan menghindari tindakan plagiarisme dalam bentuk kecurangan akademik apapun.
- Membangun kepercayaan publik: nilai integritas akademik berusaha menemukan kepercayaan publik terhadap hasil-hasil akademik serta institusi pendidikan tinggi. Hal ini terlaksana melalui praktik yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan dalam kegiatan akademik.
- Mendorong penelitian bertanggung jawab: integritas akademik akan mendorong adanya penggunaan data dan fakta yang tepat serta valid sehingga mampu mendorong proses penelitian yang transparan serta etis.
- Menjaga kehormatan dan martabat akademisi: yaitu memelihara kehormatan dan juga martabat baik individu maupun institusi. Hal ini terlaksana melalui perilaku yang adil, jujur dan profesional.
- Meningkatkan etika dan moral di lingkungan akademik: mempromosikan nilai-nilai keadilan, kehormatan dan juga keteguhan hati sehingga dapat meningkatkan etika serta moral di lingkungan akademik.
SOP anti plagiarisme di kelas
AI detektor plagiarisme memang menjadi solusi tepat dalam menghindari adanya kecurangan pelaksanaan tugas ataupun ujian. Namun para guru dan pihak sekolah juga harus siap sedia untuk melatih serta membimbing peserta didik sehingga dapat mencegah adanya plagiarisme di dalam kelas.
Hal ini dapat terlaksana dengan mengadakan adanya peraturan anti plagiarisme di dalam pelaksanaan kegiatan sekolah. Pelaksanaan aturan-aturan ini akan membantu meminimalisir penggunaan kecerdasan buatan yang tidak benar sehingga dapat melatih kejujuran peserta didik dalam kegiatan belajar.
Berikut ini adalah informasi penting mengenai sop anti plagiarisme yang dapat guru laksanakan di kelas.
Latih pemahaman integritas akademik
Para guru bisa mencoba melatih pemahaman tentang integritas akademik untuk peserta didik. Latih pemahaman kejujuran dan juga tanggung jawab ketika melaksanakan tugas sehingga mampu memberikan hasil karya yang original.
Berikan pemahaman bahwa kejujuran dalam melaksanakan tugas merupakan suatu hal yang penting sebagai seorang pembelajar. Berikan pemahaman ini secara terus-menerus sehingga dapat terpatri di otak mereka.
Pahami dan hormati hak kekayaan intelektual
Berikan juga pemahaman mengenai hak kekayaan intelektual sehingga peserta didik memahami konsep tersebut. Mereka akan dapat memahami hak cipta dalam melindungi ide dan karya kreatif sehingga penggunaannya tanpa izin merupakan hal yang melanggar.
Pemahaman ini akan membantu mereka agar dapat menghargai karya tulis orang lain serta tidak menggunakannya tanpa izin.
Baca Juga: Langkah membuat RPP dengan AI
Latih penggunaan referensi
Para guru bisa melatih para peserta didik dalam menggunakan referensi dengan tepat. Ketika menggunakan informasi dari sumber lain latihan mereka agar menggunakan format referensi yang tepat sehingga dapat melatih mereka dalam pembuatan karya tulis nantinya serta menghindari dari plagiarisme.
Latih teknik parafrase
Para guru juga bisa melatih peserta didik dalam menggunakan teknik parafrase sehingga bisa memberikan pemahaman menggunakan bahasa sendiri tanpa adanya unsur plagiarisme. Ini akan melatih mereka dalam menyusun kalimat secara tepat dan tidak bergantung pada kecerdasan buatan.
Mereka harus dapat mengembangkan bentuk tulisan mereka sendiri namun tetap memahami inti dari referensi karya tulis orang lain. Ini akan dapat membantu mengembangkan gaya penulisan mereka masing-masing.
Berikan peraturan secara jelas
Para guru bisa melatih peserta didik dalam kejujuran ketika membuat suatu tulisan dengan memberikan peraturan yang jelas. Peraturan ini berbasis pada penggunaan artificial intelligence dan juga penggunaannya di karya tulis.
Tekankan bahwa penggunaan kecerdasan buatan dalam penulisan karya tulis merupakan hal yang dilarang serta berikan konsekuensi penggunaannya di kelas.
Penutup
Itulah informasi penting mengenai AI detektor plagiarisme yang krusial untuk melakukan pembelajaran di masa modern ini. Penggunaan detektor kecerdasan buatan tersebut akan mampu membantu para guru dalam menyeleksi tugas-tugas yang telah peserta didik buat sehingga bisa melatih kejujuran serta menghindari kecurangan.





